Hukum Meminta Sesuatu Dari Sebuah Makam

Diskusi Hangat Antara Abdullah dan Abdunnabi

Pada suatu hari keluarlah seorang ahli Tauhid yang bernama Abdullah untuk menyelesaikan sebagian dari kebutuhannya.  Di tengah perjalanan, Ia melewati sebuah kuburan dan mendapati di sisi kuburan tersebut seorang pengagung kuburan.

Maka ia pun bertanya:

Abdullah : “Siapa nama Anda?”

Abdunnabi : “Nama saya Abdunnabi (hamba Nabi).”

Abbdullah : “Wahai Abdunnabi, saya mendengar engkau meminta syafaat dan memohon perlindungan kepada orang mati, penghuni kuburan ini, betulkah demikian?”

Abdunnabi : “Betul!”

Abdullah : “Perbuatan ini tidak boleh, bahkan termasuk perbuatan syirik besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu menyembah  apa-apa yang tidak memberi manfaat  dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang zhalim”. (QS. Yunus :106).  Maka berdoa kepada selain Allah, memohon perlindungan dan syafaat kepada orang-orang yang telah meninggal adalah syrik besar.”

Abdunnabi : “Saya sama sekali tidak menyembah kecuali kepada Allah semata, saya tidak rukuk dan tidak pula sujud kepada selain Allah. Adapun memohon perlindungan kepada orang-orang yang meninggal, meminta dan memohon kepada mereka bukanlah ibadah, ibadah itu adalah shalat, puasa, rukuk dan sujud.”

Abdullah : “Semoga Allah memberimu petunjuk! Perkataan seperti ini tidaklah pantas diucapkan oleh orang-orang berakal yang membaca Al-Qur’an dan mentadabburi nash-nash syar’i. Bagaimana Anda mengetahui bahwasanya shalat dan puasa adalah ibadah? Apa dalil Anda atas pembatasan ibadah hanya kepada shalat, puasa dan semisalnya saja?”

Abdunnabi : “Sesungguhnya Allah “Perbuatan ini tidak boleh, bahkan termasuk perbuatan syirik besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu menyembah  apa-apa yang tidak memberi manfaat  dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu telah memerintahkan hal tersebut kepada kita, Allah berfirman: ”Dan tegakkanlah shalat.“  Kemudian  Allah berfirman: “Diwajibkan atas kamu berpuasa”, dan dalil-dalil yang lain.”

Abdullah : “Kalau begitu dapat dipahami dari argumen Anda bahwa ibadah dalam  pandangan Anda  adalah setiap yang diperintahkan oleh Allah “Perbuatan ini tidak boleh, bahkan termasuk perbuatan syirik besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu menyembah  apa-apa yang tidak memberi manfaat  dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu, baik itu yang sifatnya wajib atau pun sunnah.”

Abdunnabi : “Hal itu tidak diragukan lagi.”

Abdullah : “Sesungguhnya perintah Allah kepada kita semua untuk berdoa, yang mana doa tersebut adalah meminta dan memohon, itu lebih banyak dibanding perintah untuk shalat dan puasa, dan kita diperintahkan secara khusus untuk ikhlas dalam berdoa yaitu meminta dan memohon kepada Allah dan secara umum diperintahkan untuk ikhlas dalam semua jenis ibadah. Dimana Allah “Perbuatan ini tidak boleh, bahkan termasuk perbuatan syirik besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu menyembah  apa-apa yang tidak memberi manfaat  dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu berfirman yang artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. al A’raaf: 55) dan Allah berfirman: “Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). “ ( QS. al A’raaf: 56).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk berdoa, bahkan Allah menamakan doa  yaitu meminta dan memohon dengan nama ibadah. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka telah berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka mengetahui bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Mu’minuun: 60).

Demikian pula dalam firman Allah yang memberitahukan tentang keadaan orang-orang kafir Quraisy, bahwasanya mereka itu memurnikan doa dalam kondisi kesulitan dan tercekam. Allah berfirman dalam surat Al Ankabut: 65 yang artinya: “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”. Dan sudah pasti bahwa yang dimaksud dengan doa di sini adalah meminta dan memohon perlindungan kepada Allah dan Allah telah menyebutkannya dengan sebutan din (agama) karena keagungan doa tersebut. Jika sekiranya doa yaitu meminta dan memohon tersebut bukanlah sesuatu ibadah maka Allah tidak akan menyebutnya dengan sebutan agama (din). Rasulullah bersabda, “Doa itu adalah ibadah.”  (HR. Tirmidzi).”

Abbdunnabi : “Berikan kepadaku satu dalil dari Al-Qur’an dan  As Sunnah yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah adalah syirik..”

Abbdullah : “Baik, saya akan memberikanmu, Allah berfirman  dalam surat Yunus: 106 (yang artinya): “Dan janganlah kamu menyembah  apa-apa yang tidak memberi manfaat  dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang zhalim.” Yaitu termasuk orang-orang yang musyrik, karena kezhaliman. Jika dimutlakkan penyebutannya maka yang dimaksud dengan kezhaliman yang besar adalah syirik besar. Allah berfirman, “Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezhaliman yang besar.”  (QS. Luqman : 13).

Dan firman Allah “Dan janganlah kamu berdoa”, mencakup doa yang berisi permohonan dan doa ibadah. Doa masalah (permintaan) termasuk di dalamnya istighasah (memohon bantuan untuk menghilangkan kesulitan yang sedang terjadi),  isti’anah (memohon pertolongan untuk mendatangkan manfaat), isti’adzah (memohon perlindungan dari marabahaya yang dikhawatirkan terjadi) dan meminta syafaat. Sedangkan doa ibadah adalah mencakup ibadah-ibadah  yang sifatnya qalbiyah (ibadah hati) seperti rasa takut, tawakkal, rasa harap, rasa cemas dan semisalnya, demikian pula mencakup ibadah-ibadah yang sifatnya ‘amaliyah (ibadah anggota tubuh) seperti shalat, puasa dan haji. Demikian pula mencakup ibadah-ibadah yang sifatnya maliyah (ibadah harta) seperti zakat dan sedekah.

Kesimpulannya: Bahwa ungkapan “berdoalah kepada Allah” atau “janganlah berdoa” dalam Al Qur’an dan As Sunnah masuk di dalamnya seluruh jenis ibadah, baik itu sifatnya perkataan, amalan maupun harta. Dalil yang kedua yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah,  beristighasah  kepada selain Allah dan semacamnya termasuk kesyirikan adalah, apa yang ditunjukkan oleh firman Allah yang artinya: “Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu.” Yang menujukkan hal tersebut dalam ayat ini adalah bahwasanya Allah menamakan berdoa kepada selain Allah adalah syirik dan yang dimaksud di sini adalah doa yang mengandung  permintaan dan permohonan, seperti beristighasah kepada orang-orang yang telah meninggal,  beristi’anah kepada mereka dan lain-lain. Adapun yang menunjukkan bahwa yang dimaksud di sini adalah doa meminta atau memohon, firman Allah  “mereka tidak mendengar doa kalian”. Karena yang dapat didengar adalah permintaan dan permohonan. Namun demikian Allah pun tetap menyebutkan sebagai perbuatan syirik, apabila ditujukan kepada selain Allah, karena Allah berfirman, artinya: “mereka akan mengingkari kemusyrikanmu.”

Ayat ini umum, mencakup patung-patung orang-orang yang telah meninggal dan selain mereka.

Abdunnabi : “Berikan saya satu dalil yang menujukkan bahwasanya meminta syafaat kepada orang-orang telah meninggal adalah syrik dan  bahwa siapa yang meminta hal tersebut kepada mereka adalah kafir.”

Abdullah : “Dalil yang menunjukkan bahwa meminta syafaat adalah syirik, firman Allah dalam surat Yunus: 18 yang artinya: “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah apa kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan itu”.

Ayat ini menujukkan bahwa kesyirikan orang-orang musyrik dahulu hanyalah terletak pada perbuatan mereka meminta syafaat, namun demikian Allah tetap menamakan perbuatan meminta syafaat tersebut sebagai perbuatan syirik, di mana Allah SWT menyebutkan di akhir ayat ini “Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persyerikatkan”.

Adapun dalil yang menujukkan bahwasanya mereka kafir dengan perbuatan tersebut adalah firman Allah dalam surah Az Zumar: 3 yang artinya: ”Dan orang-orang yang mengambil perlindungan selain Allah (berkata) kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang pendusta dan sangat ingkar”.

Yang menujukkan hal tersebut dalam ayat ini  adalah bahwasanya Allah menyebutkan siapa yang menganggap bahwa orang-orang mati tersebut dapat memberi syafaat maka disebut pendusta dan kafir.

Abdunnabi : “Orang-orang kafir Quraisy dahulu meyakini bahwa patung-patung dan sembahan-sembahan mereka  serta para wali tersebut merekalah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini sehingga mereka pun disebut kafir, adapun jika mereka meminta syafaat kepada wali-wali tanpa meyakini bahwa merekalah yang telah menciptakan, memberi rezki dan mengatur urusan alam jagad raya ini, maka mereka tidak kafir, jadi Anda harus memahami hal ini dengan baik karena kalian wahai Wahabiyah sangat ekstrim.

Abbdullah : “Argumen ini tidaklah keluar kecuali dari seorang yang jahil, tidak menelaah nash-nash syar’i, padahal Allah telah menjelaskan bahwa orang-orang kafir Quraisy dan orang-orang musyrikin pada zaman Nabi mereka juga mengakui bahwa Allahlah yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur, memberi manfaat dan mendatangkan mudharat.”

Abdunnabi : “Saya tidak ingin sekadar perkataan belaka, berikan saya dalil-dalil mengenai hal tersebut.”

Abdullah : “Baik, dalilnya adalah firman Allah dalam Surat Yunus: 31 yang artinya: “Katakanlah: ”Siapa yang memberi rezki dari langit, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan  yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”, maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)”.  Ayat yang kedua, firman Allah Al Mu’minuun: 84-89 yang artinya: ”Katakanlah, kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya jika kamu mengetahui?. Katakanlah siapakah yang memiliki langit yang tujuh dan  yang memiliki ‘Arsy yang agung? Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah” katakanlah: ”Maka apakah kamu tidak bertakwa?”  Juga firman Allah yang artinya: ”Jika kalian bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab Allah”.

Maka  keadaan mereka menjadikan pemberi syafaat dan perantara antara mereka dengan Allah adalah dalil yang menujukkan bahwa mereka juga mengakui bahwa Allah Maha Pencipta, Pemberi Rezeki, Pemberi Manfaat dan Mudharat, sedangkan sembahan-sembahan mereka tidaklah mengatur sesuatu pun. Karena sekiranya mereka berkeyakinan bahwa sembahan-sembahan mereka dapat memberi manfaat dan mudharat maka niscaya mereka tidak akan menjadikannya sebagai pemberi syafaat dan perantara, akan tetapi mereka akan  berdoa secara langsung kepada sembahan-sembahan tersebut. Apabila mereka meyakini bahwa sembahan-sembahan tersebut dapat memberi manfaat dan mudharat, maka mengapa mereka tidak meminta dan memohon langsung kepadanya? Mengapa mereka malah menjadikan sembahan-sembahan itu hanya sebagai perantara  dan  pemberi syafaat?

Di antara dalil yang juga menujukkan bahwa orang-orang musyrikin pada zaman Nabi juga mengakui bahwa Allahlah yang memberi manfaat dan memberi mudharat, adalah bahwasanya mereka pada kondisi yang sangat sulit dan mencekam, mereka justru memurnikan doa kepada Allah dan melupakan perantara dan pemberi syafaat tersebut. Allah berfirman dalam surah Al An‘aam: 41-40 yang artinya: ”Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang sisksaan Allah kepadamu atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!”

Dan firman Allah dalam surah Al Ankabuut: 65 yang artinya: “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutkan (Allah).”

Abdunnabi` : “Perkataan saya, ‘Wahai fulan, berikanlah aku syafaat’ atau ‘wahai fulan berikanlah aku pertolongan’, ini hanyalah sekadar panggilan dan bukan doa, bedakan antara panggilan dan doa!”

Abdullah : “Ahli bahasa dan para ulama yang terpercaya telah sepakat bahwa panggilan/seruan adalah doa dan tidak ada perbedaan antara keduanya. Allah berfirman  An-Nur: 63 yang artinya: ”Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)”. Dan yang dimaksud dengan doa disini adalah panggilan. Karena dahulu orang-orang Arab Badui memanggil Nabi dengan nama beliau semata dan Allah menamakan panggilan tersebut sebagi doa. Demikian pula firman Allah tentang Nabi Nuh dalam surat  Al Qomar : 10 yang artinya: ”Maka dia mengadu kepada Tuhannya, bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)”. Dimana Allah menamakan bahwa hal ini sebagai doa yang keluar dari Nabi Nuh yang pada ayat lain Allah menyebutkan dengan sebutan panggilan, di mana Allah berfirman dalam surah As Shafaat: 75, artinya: “Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami; maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).”

Abdunnabi : “Wahai Abdullah, sesungguhnya Anda bersenjatakan dengan Al Kitab dan As Sunnah, apabila saya meminta kepada Anda suatu dalil Anda menyebutkan dalil-dalil yang banyak, akan tetapi wahai saudaraku, mungkin saja orang-orang kafir Quraisy dahulu musyrik karena mereka menjadikan patung-patung tersebut sebagai perantara. Jika sekiranya mereka menjadikan para wali mungkin saja mereka tidak akan kafir, adapun keadaan mereka di mana mereka mengetahui bahwa Allah Maha Pencipta, Pemberi Rezeki, Pemberi Manfaat dan Mudharat maka semuanya telah jelas bagi saya sesuai dengan apa yang Anda sebutkan dari dalil-dalil tersebut.

Abdullah : “Ya,  Anda tidak akan mendapatkan pada perkataan saya kecuali perkataan Allah dan Rasul-Nya dan ayat yang jelas serta hadits yang shahih, kami adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan bukan orang-orang yang ekstrim. Dan adapun perkataan Anda bahwa mereka dahulu hanya meminta syafaat kepada patung-patung tersebut sehingga mereka pun menjadi kafir, maka hal tersebut didustakan oleh Al Qur’an, Allah telah berfirman dalam surat  Al Israa’: 57 yang artinya: ”Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (Allah) yang meharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti”.
Ibnu Abbas dan Mujahid berkata, “Mereka dahulu berdoa kepada malaikat, Isa Al Masih dan Uzair.”  Imam Bukhari berkata dalam kitab Shahihnya (4714), “Dari Ibnu Mas’ud beliau berkata dahulu ada sekelompok manusia menyembah sekelompok jin, maka jin-jin itu masuk Islam dan adapun kelompok manuisa tersebut tetap  dalam agama dan penyembahan mereka.” Allah berfirman dalam surat Al Furqon: 17 yang artinya: ”Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah)”.  Al Imam At Thabary berkata, ”Allah berfirman dan hari di mana kami mengumpulkan mereka yang mendustakan hari kiamat, yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah dengan apa yang mereka sembah selain Allah dari para malaikat, manusia dan Jin.” (Tafsir At Thabary juz 9 hal.19). Mujahid berkata tentang firman Allah “dari apa yang mereka sembah selain Allah” mereka adalah Isa, Uzair dan malaikat. (Tafsir Ibnu Katisr juz 3 hal. 112)

Demikian pula firman Allah dalam surat An-Najm: 19 yang artinya: “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik)  menganggap al Lata dan al ‘Uzza.” Berkata Ibnu Abbas dan Mujahid: Al Lata adalah seorang lelaki yang shalih yang semasa hidupnya membuat adonan (makanan) yang diperuntukkan untuk jamaah haji maka ketika ia meninggal orang-orang pun berittikaf di sekitar kuburannya.

Maka jelaslah bagi Anda bahwasanya orang-orang kafir Quraisy yang diperangi oleh Nabi tersebut tidaklah meminta syafaat hanya kepada patung-patung tetapi mereka juga meminta syafaat kepada orang-orang shalih, para wali, dan para Nabi. Namun demikian Allah tetap mengkafirkan mereka dan Nabi pun memerangi mereka agar doa itu diperuntukkan hanya kepada Allah. Demikian pula sembelihan dan istighosah semuanya hanya kepada Allah dan agar tidak berdoa kepada selain Allah.

Abdunnabi : “Wahai Saudaraku, yang mulia, demi Allah,  sebenarnya saya pun ragu tentang meminta kepada orang-orang yang meninggal dan saya tidak menerima penuh persoalan ini, akan tetapi dalam masalah ini kami hanya mengatakan sebagaimana dikatakan para pendahulu kami, sebagaimana dalam surat Az Zukhruf: 23, yang artinya: “Sesungguhnya kami mendapati  bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami pengikut jejak-jejak mereka”. Saya sering membaca ayat-ayat Al Qur’an akan tetapi saya tidak pernah mentadabburi maknanya.  Maka sejak sekarang saya berjanji kepada Allah kemudian kepadamu untuk bertaubat dari kesyrikan dan perbuatan ini.”

Abdullah : “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan aku sebab dikeluarkannya engkau dari gelapnya kesyirikan dan kebodohan kepada cahaya iman dan takwa.”(Al Fikrah)

Diterjemahkan oleh Busman Ali dari tulisan Syaikh Salman bin Abdullah Ash-Shu’aibi dengan judul Hiwar Sakhin baina Abdullah wa Abdunnabi

disadur dari:

http://www.wahdah.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: